Egois?
ternyata sampai saat ini aku masih egois
selama ini masih aja berusaha mencari, mendapatkan dan menigkatkan cinta suami
mostly, tuntutan yang diminta (meski jarang terlontar)
sepatutnya aku mencoba menjadi wanita, istri yang layak dicintai
dengan menjadi istri yang layak dicintai, cinta suami pasti akan bertambah dengan sendirinya…
iya ga sih?
Dari wanita kedua,
I believe it should work both ways: from husband and wife. Kenapa sih cinta suami harus diperjuangkan? Harusnya dua arah: suami dan istri menambah kecintaan masing2 thd pasangan.
Secara budaya dan reliji, perempuan adalah pihak yang “harus” membuat efforts alias usaha. Kenapa nggak laki-laki juga?
Maaf…gw ngotot ya? Gw gemes lihat perempuan ditindas atas nama cinta dan keluarga. Perempuan harusnya berdiri tegak
Dari-ku,
Dalam konteks mendapatkan/meningkatkan cinta suami.
Secara budaya, beberapa mungkin memang mengindikasikan pihak perempuan untuk memberikan lebih banyak efforts.
Tapi untuk secara reliji, jika yang dimaksud adalah islam aku pikir masih balance kok.
Dari sisi wanita memang ada ajaran untuk berbakti pada suami, menyenangkan suami dan banyak lagi jika kita merujuk pada 10 wasiat Rosulullah pada Fathimah.
Sedangkan dari sisi suami diawali dengan membayar mahar sebagai wujud keseriusan akan komitmen dalam berkeluarga. Begitu juga dengan memberikan pengertian, bimbingan, nafkah, menggauli dengan baik serta berlaku adil jika memiliki lebih dari satu istri dan lain sebagainya. Jika hal tersebut tidak dianggap sebagai efforts jadi apa? Secara reliji (islam) dalam hal hubungan suami-istri sudah diatur dengan baik sekali. Reliji(islam) diperuntukan bagi manusia di bumi dan ajarannya digunakan sampai akhir jaman. Jika ada ketidak-cocokan maka dapat dipastikan adanya pergeseran nilai dan pemikiran pada manusia/pemeluknya, bukan karena reliji(islam) yang tidak uptodate.
Sekarang kembali lagi ke masalah cinta yang umumnya dianalogikan secara “kasar” dengan romantisme, kirim bunga, nonton bareng, dinner, perhiasan/materi, rayuan dan banyak lagi lainnya. Hal – hal yang sebetulnya hanya merupakan kulit paling luar dari wujud cinta itu sendiri.
Cinta memang harus didapatkan dan ditingkatkan oleh masing – masing pihak yang terkait karena memang keduanya saling membutuhkan. Indahnya saling membutuhkan bisa dikarenakan adanya perbedaan diantaranya. Pria dan wanita memang berbeda dan karena perbedaan itulah keduanya dipersatukan untuk saling melengkapi. Perbedaan ini jugalah yang jika kurang dapat menyikapi akan mengakibatkan timbulnya perpecahan karena salah paham tanpa ada yang mau mengalah.
Kita tahu bahwa pria dan wanita memang diciptakan dengan bentuk secara fisika dan biologi, isi kepala, pemikiran, sifat, pola pikir yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian seharusnya kita juga harus bisa dan mau menyadari bahwa dengan sendirinya pria dan wanita juga akan memiliki perbedaan dalam mewujudkan kecintaan terhadap pasangannya.
Yang menjadi tantangan bagi kita saat ini adalah menjadi lebih peka terhadap pasangan kita agar sinyal – sinyal cintanya dapat kita deteksi dan kita nikmati dengan baik.
Satu hal lagi yang harus kita ingat adalah bahwa wujud cinta pasangan kita bisa jadi tidak seperti yang kita pikirkan. Namun apapun wujudnya selama itu positif maka menjadi kewajiban bagi penerima untuk menghargainya.
Menjadi suami-istri bukan untuk setahun atau dua tahun tapi selama hidup kita terhitung setelah akad nikah dilakukan. Jadi jika ada kesulitan menghadapi pasangan tidak ada kata terlambat untuk saling memahami satu sama lain. Banyak penelitian menyebutkan wanita selalu menggunakan perasaan dan pria selalu menggunakan logika. Tapi itu bukan berarti wanita tidak punya logika dan pria tidak punya perasaan kan? Masing – masing memiliki perasaan dan logika yang dapat digunakan semaksimal mungkin untuk berinteraksi. Lalu bagaimana jika sulit untuk melakukan? kata “sulit” bukan harga mati seperti kata “tidak bisa”. Sesulit apapun, insya Allah kita masih memiliki cukup waktu selama masih hidup.

Leave a Reply